Menu
Menjadi Referensi & Terkini

Trump Melunak di Tengah Badai: Perang Dagang atau Diplomasi Terselubung?

  • Bagikan

Trump dikenal dengan gaya negosiasinya yang tak biasa. Ia kerap menggunakan stick and carrot alias tekanan keras diselingi dengan tawaran kompromi.

Dalam kasus ini, stick-nya berupa tarif tinggi dan pernyataan keras tentang dominasi ekonomi AS, sedangkan carrot-nya adalah undangan terbuka untuk memulai kembali perundingan.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah China akan terpancing untuk mengambil langkah pertama? Hingga kini, Beijing tampak ragu. Mereka menyatakan tidak memahami dengan jelas apa yang sebenarnya diinginkan oleh AS.

Ini memperlihatkan bahwa komunikasi strategis kedua negara tengah macet. Bila salah satu pihak tak memahami “sinyal” yang dikirim pihak lain, perundingan bisa menjadi misi yang nyaris mustahil.

Di tengah ketegangan dua raksasa ekonomi dunia, negara-negara berkembang seperti Indonesia berada dalam posisi yang cukup genting. Dengan tarif AS terhadap barang Indonesia mencapai 32% dan meskipun penundaannya selama 90 hari memberikan ruang bernafas pemerintah Indonesia memilih jalur negosiasi.

Presiden Prabowo melalui tim ekonomi yang dipimpin Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa penurunan tarif adalah kepentingan nasional. Tim yang solid, dari Menlu hingga Menkeu, dikirim untuk mengamankan posisi Indonesia dalam kerangka perdagangan global yang makin tidak pasti.

Salah satu strategi yang ditempuh Indonesia adalah menyeimbangkan neraca dagang dengan AS dengan cara meningkatkan impor komoditas seperti kapas, kedelai, dan migas dari Negeri Paman Sam.

Langkah ini mencerminkan pendekatan diplomasi ekonomi yang cerdas menciptakan kesan resiprositas tanpa kehilangan kemandirian dalam pengambilan keputusan.

Meskipun Trump melalui juru bicaranya Karoline Leavitt menekankan bahwa AS terbuka untuk negosiasi, realitanya belum ada pembicaraan tingkat tinggi antara kedua negara.

Keduanya justru saling menaikkan tarif sebagai bentuk tekanan. Ini seperti permainan catur di mana kedua pemain menunggu lawan membuat langkah yang salah terlebih dahulu.

Namun, sinyal “pintu negosiasi masih terbuka” dari AS adalah hal penting. Ia menunjukkan bahwa meskipun retorika panas terus didengungkan, masih ada celah diplomasi yang bisa dieksplorasi.

Hal ini penting, tidak hanya untuk kestabilan ekonomi global, tetapi juga bagi negara-negara seperti Indonesia yang sangat bergantung pada kestabilan rantai pasok dan perdagangan internasional.

  • Bagikan